Arsip Blog

Kamis, 04 Juni 2015

Mengapa kita hidup seperti ini?




Melihat penduduk yang semakin lama semakin padat di Jabodetabek, membuat perasaan kita miris. Semakin hari semakin tidak tertampung. Kehidupan semakin berat, harga kebutuhan dan biaya hidup semakin mahal, menyebabkan orang melakukan apapun yang penting bisa hidup dan makan.

Dahulu orang tua kita di daerah pulang sampai rumah jam 4 sore, jam 5 sudah mandi dan baca koran sambil minum kopi, jam 6 sudah ngobrol di beranda dengan tetangga, jam 7 sudah nonton warta berita nasional di TVRI.

Saat ini kita semua pulang rumah diatas jam 8 sudah sangat biasa, semua "kenikmatan" yang dikecap orang tua kita sudah tidak kita nikmati lagi. Saat saat jam emas itu kita sibuk dengan pekerjaan kantor, dan selebihnya berjuang untuk bisa pulang dan sampai rumah dengan secepat mungkin.

Kalau kita sudah biasa pulang jam 8, 9 atau 10 malam nyampe rumah, bagaimana dengan nasib anak-anak kita nanti? apakah mereka akan pulang lebih larut lagi? Jam 12 malam mungkin atau bahkan tidak pulang sama sekali?

Karena ada pepatah " Apabila kamu ingin mendapat lebih, maka berikan lebih banyak dari pada orang lain". Maka terjadilah persaingan di semua karyawan, karena mereka ingin naik gaji dan dipromosikan. Saat si A pulang jam 5, maka si B akan pulang jam 6, dan si C akan pulang jam 7, dan seterusnya berputar dan berlarut-larut.

Dengan kondisi yang semakin susah ini, karena harga-harga yang dirasa semakin "naik" maka apabila jaman dulu cukup seorang ayah yang bekerja dan kebutuhan dirasa bisa dipenuhi, sekarang harus ayah dan ibu bekerja bersama, namun itupun dirasa  tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apakah ada yang aneh di hidup kita saat ini?

Saya kadang berpikir mungkinkah kondisi ini disebabkan oleh perubahan jaman yang mengarah ke hal yang tidak baik. Kebutuhan semakin banyak, dan manusia harus bekerja semakin keras. Apakah yang menyebabkan itu semua? gaya hidup? Teknologi? bahan makanan pokok makin mahal, luas lahan yang menyempit atau apa?

Pemikiran ekstrem yang muncul kadang menuduh kondisi ini diperburuk karena perempuan yang ada sekarang hampir semuanya "bekerja" dan merebut peluang pekerjaan para laki-laki untuk mencari nafkah. Maksudnya kalau seorang laki-laki bekerja adalah untuk isteri dan anak-anaknya, sedangkan kalau perempuan bekerja itu biasanya adalah untuk tambahan pendapatan. Dengan semua perempuan ikut bekerja di lahan yang sama dengan para laki-laki maka kesempatan seorang laki-laki untuk dipromosikan, naik gaji, atau mendapat rejeki lebih menjadi mengecil.

 
Hal ini kadang memicu ketakutan laki-laki untuk menikah, karena laki-laki akan minder dengan perempuan yang pendapatannya lebih besar. Juga apabila gajinya sama tetap ada rasa takut juga kalau sudah menikah nanti tidak bisa memenuhi kebutuhan sekunder seperti alat komunikasi, rumah, kendaraan dan yang paling ditakutkan tidak bisa menghidupi dan menyekolahkan anaknya dengan baik.

Pada saat terjadi keadaan dimana laki-laki enggan atau menolak menikah maka korbannya adalah perempuan juga, karena dengan siapa perempuan akan menikah kalau tidak dengan laki-laki. Dan akhirnya bukan hal yang aneh laki-laki dan perempuan sama-sama tidak menikah di jaman ini, walaupun mereka saling membutuhkan.

Apakah kalau perempuan mau mengalah untuk tidak bekerja maka keadaan akan lebih baik? Apakah kita kena kutukan dari apa yang disebut emansipasi, atau apakah orang Jawa salah kalau berpendapat bahwa "perempuan sebaiknya macak(berhias), masak dan manak(mengurus anak) saja". Silakan menikmati jaman yang semakin edan ini...



Tidak ada komentar:

Pengarang